perempuan dan kucing

“Meow!”

Suara lembut yang terdengar seperti menggoda itu, keluar dari mulut Kate, kucing betina kesayangan pemiliknya yang umurnya musim gugur yang lalu menginjak angka 5.

“Wut!?”

Kata seorang gadis berkisar umur tiga belas tahun, yang tengah menyibukkan dirinya dengan membuka tumpukan hadiah kiriman orang tuanya, seminggu yang lalu.

“Meow, Meow,”

Lagi-lagi, Kate yang bersuara lembut dan memelas dengan tampang imutnya, menggoda tuannya untuk yang kesekian kalinya.

“Kau mau apa?”

“Meow, Meow, Meow,”

Jawab kucing berwarna hitam penuh itu, sembari mengutarakan keinginannya dengan menunjuk-nunjuk bola hijau kesayangannya.

Tapi, gadis remaja itu malah hanya melirik sekilas dengan sikap acuh tak acuh. Dia malah sibuk sekali mencoba memakai mantel tebal berwarna merah menyala dari salah satu kotak hadiah.

“Hei, lihatlah kawan, ini cantik bukan?”

Gadis bernama lengkap Jennette Ayura Salim, atau akrab di sapa Jane itu memandangi dirinya di cermin. Dia menimbang-nimbang apakah dia terlihat cantik hari ini. Maklumlah, ketika seseorang remaja memasuki masa puber, dia akan melakukan sesuatu hal yang konyol, yang dapat di pastikan akan di sesalinya suatu saat nanti.

“Meeoooww~!!!”

Kate menyandarkan dirinya di lantai sambil mencakar-cakar udara, menandakan dirinya mulai marah.

“Oh, ayolah, 5 menit lagi!”

Bujuk Jane yang masih memandangi dirinya di cermin, baginya, kado inilah kado tercantik yang di terimanya tahun ini.

Namun, sebaliknya dengan Kate, dia malah menganggapnya menjijikkan dan norak.

Yang bener saja, aku hampir buta melihat warna merah terangnya itu! Betul-betul norak.

Namun, Kate tidak mengutarakan isi hatinya tersebut, sebaliknya, dia menggunakan jurus yang jarang sekali tidak berhasil,dan 87% ampuh! Yaitu, dengan memasang wajah jutek.

Tak tanggung, Kate juga memasang tampangnya itu tepat di depan cermin yang sering di lihati oleh mata Jane.

“Errr….”

Kata “Errr” yang keluar dari mulut Jane itu, terdengar mengandung kebingungan sekaligus bercampur dengan rasa tak enak.

Berani bertaruh, Jane tak akan kuasa menolaknya dan mengajak ku jalan-jalan. Diakan bukan anak yang normal.

“Fine, you win! Now i will play with you.”

Dia memutar matanya, berbalik dan berjalan dengan langkah yang di lambat-lambatkan menuju lemari pakaian untuk mengambil selendangnya.

Khekhekhe… aku tahu itu, Wahai Jennette, aku tahu semua kelemahanmu~

Setelah memantapkan dirinya dengan berkata, “Kau terlihat cantik hari ini Jane!” dia berjalan mengambil bola kesayangan Kate yang… bisa di bilang agak kumal. Kemudian, dia menghela nafas panjang dan mengantongi bola itu di mantel barunya.

Sungguh melelahkan!

Jane, gadis asli berdarah Indonesia yang di besarkan sejak kecil di pedalaman Australia itu, tahu betul daerah yang di injaki dan di kelilinginya, dia bahkan hafal tiap liku yang sering di lalui para hewan yang tinggal di dalam hutan ini, terutama rusa.

Dengan pakaian musim dingin yang tebal, yang melekat erat di sekitar tubuhnya, membuat Jane tertinggal jauh dengan Kate yang berlari tanpa beban.

Ini konyol! Bagaimana bisa aku kalah dengan seorang kucing? Kucing yang dulunya bahkan tak akan bisa berlari tanpa bimbingan ku!? Tengok saja Kate, akan ku balas kau ketika musim semi tiba!

Jane mendengus, mengangkat sebelah bagian bibirnya, menatap sinis ke arah Kate, seperti seorang anak yang mengibarkan bendera perang, dan meneruskan langkahnya yang seperti seorang pinguin.


Di danau betsapa, danau terindah di daerah Jane tinggal.

“Brrr…. Cuacanya makin mendingin saja!”

Uhk! Gadis ini, berhentilah mengeluh dari tadi, dan tolong cepat lemparkan bola itu.

“Meow!”

Kate memutar-mutar tubuhnya membentuk bulat, dia sering melakukannya untuk memberitahu Jane apa yang dia mau, dan Jane akan tahu sendiri apa yang kucing kesayangannya itu inginkan.

Plok!

Jennette melemparkan bola hijau itu tanpa aba-aba, dia melemparnya sangat kencang tanpa semangat, membuat Kate kaget setengah mati dan mematung untuk beberapa saat.

Kate merengut, dalam hati, mahkluk itu pasti ingin sekali memaki tuannya yang tidak punya semangat hidup. Tapi apa boleh buat, dengan wajah masam dan mata yang di sipit kan, Kate berbalik dan berlari mengejar bola itu, meninggalkan Jane sendirian di tepi danau yang hampir membeku itu.

Jane terdiam seribu bahasa, matanya menatap nanar, membuat dirinya terlihat seperti manusia tanpa tujuan.

Tes!

“Awww!”

Jerit gadis itu secara spontan. Rupanya, tadi tanpa sadar dirinya yang sedang melamun, mencelupkan jarinya ke dalam danau yang hampir membeku.

Sial! Rasanya seperti menyentuh seribu es batu bersamaan di dalam satu bak mandi.

“Eh!?”

Ketika dia dari tadi sibuk dengan jarinya, baru disadarinya selama ini rupanya ia sedang berada tepat di seberang gunung Alkheus. Ya, gunung Alkheus! gunung Alkheus bukan hanya sekedar Gunung baginya, tapi tempat itu juga merupakan tempat yang istimewa, karna gunung itu adalah…

“Tempat aku dan Kate pertama kali bertemu.”

Rasanya sudah lama sekali Jane tidak pergi ke gunung itu, gunung istimewa itu.

Hmmm… dulu bagaimana ceritanya ya, aku sampai bertemu dengan Kate?


Di gunung Alkheus, 5 tahun lalu.

Cetarrr!

Suara petir yang bergemuruh membuat seorang gadis kecil ketakutan setengah mati. Gadis itu baru berusia 8 tahun, dan dia tersesat kemari karena mengejar boneka merah tua kesayangannya.

Angin mengencang saling berganti memukuli gadis kecil itu. Bayangkan betapa takutnya gadis itu, sendirian di gunung yang tidak di ketahuinya, tanpa orang dewasa, tanpa apapun, dan hanya berbekal jaket tebal musim gugur. Belum lagi sebentar lagi kelihatannya bakal hujan, kalau hanya berbekal jaket tebal, yahh mana cukup.

“Uhhh…. Aku dimana?”

Setitik air merosot keluar dari pelupuknya, membasahi pipinya yang merah padam Karna kedinginan, kemudian titik-titik air selanjut juga ikut keluar, tapi kali ini semakin deras dan di barengi dengan ingus.

Hiks… hiks… hiks…

Begitulah suara tangisan anak perempuan itu.

“Mi.. aw..”

Betsss!

Gadis itu memutar kepalanya, menajamkan Indra pendengaran, kalau tidak salah, dia baru saja mendengarkan suara tang.. Eh tak bisa di sebut tangisan juga sih, mungkin lebih tepat kalau di bilang suara bergetar dari seekor kucing.

Tanpa menunggu tahun baru dulu, anak perempuan itu segera beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan dengan penuh was-was ke arah suara tersebut.

“Mi.. aw.. mi.. aw..”

Makin lama, suara bergetar itu semakin terdengar. Bagaimana tidak? Diakan sudah berada persis di depan suara itu terdengar.

Dia menahan nafas, berulang kali dirinya menarik dan membuang nafas, dia menyiapkan hatinya, berdoa agar tak terjadi apa-apa, lalu, 1… 2… 3…!

Betsss!

Alangkah kagetnya dia, di bawahnya, seekor kucing kecil berwarna hitam penuh dengan mata serta kuping yang memiliki warna unik serta warna yang serempak.

Kucing itu menggigil tak menentu, entah karna dia sudah lama tak makan, atau karna dia tinggal di alam bebas. Yang jelas, kucing itu tidak sehat! Wajahnya pucat pasif, belum lagi dia masih sangat kecil, betul-betul kucing yang malang!

“Uh… kasihannya dirimu! Ayo ikut aku ke rumahku, rumahku hangat.”

Anak perempuan itu kemudian menggendongnya, membalikkan badannya dan mulai jalan, tapi… tiba-tiba dia tersadar sesuatu,

“Duh, akukan lagi tersesat!”

Dia menepok jidatnya, dia baru tersadar akan masalahnya.

Set!

“Eh!?”

Sekonyong-konyongnya, dia melihat sebuah danau, danau itu dekat dengan rumahnya, rupanya dia tersesat tak jauh dari tempat tinggalnya.

Kyaaa!

Jerit gadis itu. Dia begitu senang karna sudah bisa menemukan jalan pulang menuju rumahnya yang sedari tadi membuatnya ingin menangis saja. Untung saja dia menemukannya segera sebelum hujan datang.

“Yosss! Tunggu apa lagi? Ayo, kita pulang kerumah sekarang Kate, sebelum hujan datang.”

Kate adalah nama boneka merah tua kesayangannya tersebut, gadis itu sadar bahwa dia tak mungkin bisa mendapatkan kembali boneka nya tersebut, tapi setidaknya dia sudah menemukan sesuatu yang lebih berharga, ya! Sesuatu yang lebih berharga yang akan menemaninya selama 5 tambah kedepan.


Jennette tersenyum lembut, kejadian 5 tahun yang lalu itu masih terekam penuh di kepalanya.

Aku tak akan pernah melupakannya.

Lalu, dari arah kiri pinggir danau itu, terdengar bunyi larian yang makin mendekat, lagi-lagi Jane tersenyum, dia tahu betul itu pasti adalah kucing hitam kesayangannya. Kate pasti telah berhasil menemukan bola hijau kumal tersebut, dan tanpa menunggu kucing itu datang terlebih dahulu, Jane segera berlari dan pergi.

Ayo kita kejutkan dia sebelum dia datang kemari! Huehehehe…

Sampai sekarang, Jane masih belum tahu darimana asal Kate, dan mengapa Kate ada disitu saat itu juga, itu masih rahasia, dan mungkin akan selalu jadi rahasia sampai kapanpun, atauu? mungkin ini yang namanya… Oh, No!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here